PENYULUHAN KESEHATAN DI KOGARTAP III/SURABAYA TENTANG BAHAYA DIFTERI DAN PENCEGAHANNYA

Rabu, 3 Januari 2018 15:30:02 - Oleh : Kogartap III/Surabaya - Dibaca : 696

Penyuluhan Kesehatan Di Kogartap III/Surabaya Tentang Bahaya Difteri Dan Pencegahannya

Difteri adalah infeksi bakteri  yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat mempengaruhi kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Menurut WHO, tercatat ada 7.097 kasus yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016. Di antara angka tersebut Indonesia menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Difteri termasuk salah satu penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi dan terhadap difteri termasuk ke dalam program imunisasi wajib pemerintah Indonesia. Imunisasi difteri yang dikombinasi dengan pertusis (batuk rajan) dan tetanus ini dsebut dengan imunisasi DTP.

Penyebab Difteri

Difteri disebabkan oleh bakteri Corynebacterium Diphtheriae. Penyebaran bakteri ini dapat terjadi dengan mudah, terutama bagi orang yang tidak mendapatkan vaksin difteri, ada sejumlah cara penularan yang perlu diwaspadai, seperti :

·         Terhirup percikan ludah penderita di udara saat penderita bersin atau batuk. Ini merupakan cara penularan difteri yang paling umum.

·         Barang-barang yang sudah terkontaminasi oleh bakteri, contohnya mainan atau handuk.

·         Sentuhan langsung pada luka borok (ulkus) akibat difteri di kulit penderita. Penularan ini umumnya terjadi pada penderita yang tinggal di lingkungan yang padat penduduk dan kebersihannya tidak terjaga.

Bakteri difteri akan menghasilkan racun yang akan membunuh sel-sel sehat dalam tenggorokan, sehingga akhirnya menjadi sel mati. Sel-sel yang mati inilah yang akan membentuk membran (lapisan tipis) abu-abu pada tenggorokan. Di samping itu, racun yang dihasilkan juga berpotensi menyebar dalam aliran darah dan merusak jantung, ginjal serta sistem saraf. Apabila tidak menjalani pengobatan dengan tepat, mereka berpotensi menularkan penyakit ini kepada orang di sekitarnya, terutama mereka yang belum mendapatkan imunisasi.

Gejala Difteri

Difteri umumnya memiliki masa inkubasi atau rentang waktu sejak bakteri masuk ke tubuh sampai gejala muncul 2 hingga 5 hari. Gejala-gejala dari penyakit ini meliputi :

 

·         Terbentuknya lapisan yang tipis berwarna abu-abu yang menutupi tenggorokan dan amandel.

·         Demam dan menggigil.

·         Sakit tenggorokan dan suara serak.

·         Sulit bernafas atau napas yang cepat.

·         Pembengkakan dan kelenjar limfe pada leher.

·         Lemas dan lelah.

·         Pilek. Awalnya cair, tapi lama-kelamaan menjadi kental dan terkadang bercampur darah.

Difteri juga terkadang dapat menyerang kulit dan menyebabkab luka seperti borok (ulkus). Ulkus tersebut akan sembuh dalam beberapa bulan, tapi biasanya akan meninggalkan bekas pada kulit.

Apabila seseorang diduga kuat tertular difteri, dokter akan segera memulai pengobatan, bahkan sebelum ada hasil laboratorium. Pengobatan difteri harus segera dilakukan untuk mencegah penyebaran sekaligus komplikasi yang serius, terutama pada penderita anak-anak. Diperkirakan 1 dan 5 penderita balita dan lansia di atas 40 tahun meninggal dunia akibat komplikasi difteri. Jika tidak diobati dengan cepat dan tepat, toksin dari bakteri difteri dapat memicu beberapa komplikasi yang berpotensi mengancam jiwa. Beberapa di antarannya meliputi :

·         Masalah Pernapasan. Sel-sel yang mati akibat toksin yang direproduksi bakteri difteri membentuk membran abu-abu yang dapat menghambat pernapasan. Partikel-partikel membran juga dapat luruh dan masuk ke paru-paru. Hal ini berpotensi memicu reaksi peradangan pada paru-paru sehingga fungsinya akan menurun secara drastis dan menyebabkan gagal nafas.

·         Kerusakan Jantung. Selain paru-paru toksin difteri berpotensi masuk ke jantung dan menyebabkan peradangan otot jantung atau miokarditis. Komplikasi ini dapat menyebakan masalah, seperti detak jantung yang tidak teratur, gagal jantung dan kematian mendadak.

·         Kerusakan Saraf. Toksin dapat menyebabkan penderita mengalami masalah sulit menelan, masalah saluran kemih, paralisis atau kelumpuhan pada diafragma akan membuat pasien tidak bisa bernafas sehingga membutuhkan alat bantu pernapasan atau respirator.  Paralisis diafragma dapat terjadi secara tiba-tiba pada awal muncul gejala atau berminggu-minggu setelah infeksi sembuh. Karena itu, penderita difteri anak-anak yang mengalami komplikasi umumnya dianjurkan untuk tetap dirumah sakit hingga 1,5 bulan.

·         Difteri Hipertoksik. Komplikasi ini adalah bentuk difteri yang sangat parah. Selain gejala yang sama dengan difteri biasa, difteri hipertoksik akan memicu pendarahan yang parah dan gagal ginjal.

Pencegahan Difteri Dengan Vaksinasi

Langkah pencegahan paling efekltif untuk penyakit ini adalah dengan vaksin. Pencegahan difteri tergabung dalam vaksin DTP. Vaksin ini meliputi difteri, tetanus dan pertusis atau batuk rajan.

Vaksin DTP termasuk dalam imunisasi wajib bagi anak-anak di Indonesia. Pemberian vaksin ini dilakukan 5 kali pada saat anak berusia 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan, satu setengah tahun dan lima tahun. Selanjutnya dapat diberikan booster dengan vaksin sejenis (Tdap/Td) pada usia 10 tahun untuk memberikan perlindungan yang optimal. Apabila imunisasi DTP terlambat diberikan, imunisasi kejaran yang diberikan tidak akan mengulang dari awal. Bagi yang tidak lengkap, masih dapat diberikan imunisasi kejaran dengan jadwal sesuai anjuran dokter anak. Namun bagi mereka yang sudah berusia 7 tahun dan belum lengkap melakukan vaksin DTP, terdapat vaksin sejenis yang bernama Tdap untuk diberikan.

Pada hari Rabu, (20/12/2017) bertempat di Gedung Serbaguna Makogartap III/Surabaya dilaksanakan penyuluhan kesehatan tentang Bahaya Difteri dan Pencegahannya dari Dinas Kesehatan kota Surabaya yang disampaikan oleh Dr. Endang Dwi Hastuti Ningsih.

Pada acara tesebut dihadiri sekitar 350 orang undangan terdiri dari organik Kogartap III/Surabaya serta ibu-ibu IKKT Kogartap III/Surabaya, selain itu hadir pula Asmin Kasgartap III/Surabaya, Waasmin Kasgartap III/Surabaya, para Kasi serta para perwira lainnya.